• No products in the cart.
View Cart
Subtotal: £0.00

News

Ban Achilles: Terkenal Di Seluruh Dunia Berkat Kesempitan Sempit

Berkat keunggulan ban mobil Achilles, PT Multistrada Arah Sarana Tbk. (MAS) yang sempat pingsan akibat krisis ekonomi tahun 1998 kini bisa berjalan tegak. Perusahaan ini dianggap berhasil dalam membuat perputaran berkat keberhasilannya dalam memasarkan Achilles ke berbagai belahan dunia: Eropa, Amerika, Australia, Afrika dan, tentu saja, Asia. Nama Achilles sudah dikenal di banyak negara.

Keberhasilan ini terkait erat dengan cara di mana MAS memetakan kekuatan lawan. Bukan kebetulan kalau Achilles bisa berkeliling ke mana-mana. Karena pabrikan ini telah lama menonton lubang yang tidak dimiliki pemain utama. Tidak mengherankan bahwa MAS dapat tumbuh sebagai pemain ban terkemuka hanya dalam waktu sekitar 6 tahun.

Apa rahasia kesuksesan? “Pemain larangan hanya menghasilkan ukuran yang biasa pada saat itu,” kata Hartono Setiobudi, direktur komersial MAS. Ban di pasaran hanya berukuran 13-15 inci. Ini disebut Hartono sebagai bahan baku. Karena semua pemain ban memproduksi ban jenis ini. “Jika kami bermain dalam tipe ini, kami tidak akan untung,” katanya. Ini juga dikonfirmasi oleh J. Sukarman, Direktur Operasi MAS. Menurutnya, bermain di industri ban tidak mudah. Dapat dipahami bahwa pemain besar sudah berlabuh di pasar ini, sebut saja Bridgestone, Gajah Tunggal, Dunlop, Goodyear dan Elang.

Namun demikian, itu terus membaik. Sukarman dan timnya terus berpegang pada pengetahuan pasar. MAS melihat peluang mereka: pemain besar hanya fokus pada band byers. Di sini, celah digunakan sebaik mungkin oleh MAS dengan merek Achilles.

Seperti kita ketahui, struktur ban dibagi menjadi dua jenis, yaitu byers dan ban radial. Byers adalah ban yang menggunakan tabung sehingga terlihat lebih tebal. Walaupun ban radial tidak menggunakan ban dalam, ban tersebut lebih tipis dan modis. “Tren sekarang lebih ke arah ban modis dengan ukuran besar,” jelas Hartono.

Saat bermain di byers, peluang Achilles sangat kecil karena dominasi pemain raksasa. “Mereka sudah bermain dengan teknologi itu untuk waktu yang lama. Jika kita mengikutinya, kita pasti akan tertinggal,” kata Hartono. Selain itu, MAS berfokus pada pasar luar negeri seperti Eropa, Amerika, Jepang, Australia dan Skandinavia. Ban radial hanya dijual di Arab Saudi dan Afrika. “Jika kita berinvestasi dalam produksi band byers, radial harus menunggu dulu,” katanya. Alasan lain adalah bahwa banyak pemain besar bermain dalam larangan byers. Goodyear, Gajah Tunggal, dan Bridgestone sudah lama bermain dalam jenis ini. Namun, ini juga merupakan kesempatan bagi MAS. “Faktanya, mereka mampu menghasilkan radian. Namun, karena mereka telah berinvestasi terlalu banyak, itu memalukan untuk bermain secara radial,” ungkap Hartono. Apalagi image para pemain sudah terlampir pada byers.

Sekarang, ketika memutuskan untuk bermain secara radial, MAS lebih fokus pada ban yang modis. Be MAS menghasilkan ban besar. Menurut Hartono, industri ban sudah banyak berubah. BMW dan Mercedes-Benz, misalnya, mengarah ke ban besar. Selain itu, pabrikan hanya memproduksi ban dengan ukuran tertentu. Ini memiliki sabuk 13, 14 dan 15 inci, yang dapat diproduksi oleh semua pabrik. Dan ukuran itu adalah ukuran komoditas. Jika Anda bermain di band jenis ini, itu tidak mendapatkan banyak keuntungan karena semua produsen bermain di negara yang sama. “Jika kita dapat membuat rim 16 menjadi rim 25, manfaatnya tidak bisa diukur, jauh lebih besar,” katanya. Hingga hari ini, misalnya, ia menjual 1 juta pelek 13 ban, tetapi untungnya lebih kecil dari penjualan 10.000 ban 20 inci. “Hanya saja ukuran 13-15 inci harus ada di sana karena itu pemanis.”

Munculnya Achilles bahkan lebih disebabkan oleh menurunnya kinerja merek Strada dan Corsa di Indonesia, yang juga diproduksi oleh MAS. Karena kedua model merek jauh ketinggalan zaman. Jadi, Anda juga harus membuat merek dengan gambar baru melalui teknologi dan model baru. Achilles, yang lahir pada 2005 dengan hanya memproduksi tiga ukuran, mulai membangun kembali dirinya sendiri dan memperbarui teknologi mesin. Sukarman mengklaim bahwa MAS memiliki mesin berkualitas pertama di dunia. Ini adalah syarat mutlak untuk menjadi pemain global. “Jika kita ingin menjadi pemain global, pada dasarnya kita harus berinvestasi banyak dalam mesin. Jika tidak, jangan bermimpi menjadi pemain global,” katanya tegas.

Peningkatan dicapai dengan menjadi publik pada tahun 2005. Dengan melepaskan sekitar setengah dari saham, MAS menerima US $ 17 juta. Tidak kurang dari 70% dana penawaran umum perdana adalah untuk investasi dan 30% untuk modal kerja. Mesin trustle buatan Jerman diimpor. Mesin ini di dunia hanya memiliki 2-3 perusahaan, termasuk MAS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top
Jual Ban Mobil